Cerpen ini dibuat oleh Anima_24.
Karya ini sudah pernah dimuat di rubrik kaca, koran Kedaulatan Rakyat jogja pada tanggal 11 Maret 2008
-----------------------------------------------
Kususuri jalanan dengan langkah gontai. Kuamati sekelilingku dengan bosan. Aku lelah. Sudah bertahun-tahun kulakukan rutinitas ini. Berangkat pagi, ke sekolah, pulang sore, kembali ke rumah dan tak mendapat apa-apa. Bukan ilmu, dan bukan pula gembira yang aku dapat. Namun kebosanan dan kejenuhan total. Pandanganku sekilas terhenti pada seorang anak jalanan yang sedang bernyanyi dengan suara sumbang di perempatan jalan. Nampaknya baru beberapa detik saja ia mendatangi sebuah mobil dan menyanyi tak jelas, ia sudah mendapat selembar uang ribuan. Sungguh mangherankan. Mengingat aku yang bahkan bernyanyi dengan gitar kesayanganku di balkon rumah justru mendapat timpukan sandal dari orang yang lewat. Huh, andai aku seorang pengamen dan bukan seorang pelajar!
* * *
“Oi, No! Ayo cepetan bangun! Keburu siang, hoi!!”
Tubuhku diguncang oleh orang yang bahkan tak aku kenali suaranya. Aku menggeliat, mencoba untuk sadar. Hoaehm… aku mengantuk! Kucoba mengerjapkan mata. Namun sepertinya aku berada di tempat yang salah. Sekali lagi aku mencoba mengenali tempat apa ini. Eits!! Ini bukan kamar tidurku. Ini bahkan hanya sebuag dipan tanpa kasur! Segera aku bangun dan melihat keadaan sekeliling dengan mata terbelalak. Bagaimana ini bisa terjadi??!
“Akhire kamu bangun juga, No!” seru seseorang yang berdiri di sampingku. Tak jelas ia siapa. Yang pasti, ia tahu siapa aku. Aku memandanginya dengan heran. Seribu tanya tampak bermunculan di benakku.
“Woi!! Malah bengong!! Cepet tangi! Matahari udah mulai dhuwur tuh! Ntar kita bisa keduluan ma anak-anak laen! Ayo cepetan!!”
Kini tanganku sudah ditarik oleh anak itu. Aku pasrah aja. Karena aku bahkan belum bisa mencerna situasi apa ini. Tiba-tiba aku tersadar! Aku kan belum mandi! Gila, ni anak malah menyeretku menuju keramaian! Nggak sadar apa kalau aku belum mandi??!!! Mana…Uh!! Bau lagi!
Setelah beberapa menit berjalan dengan kecepatan penuh, akhirnya ia berhenti dan menoleh ke arahku yang bahkan sejak tadi tak dipandangnya.
“Nah, kita wis sampe’! Aku ke timur, kamu neng utara ya!” katanya sambil menunjuk arah barat dan selatan. Apa anak ini buta arah ya?? Sesaat aku berpikir untuk menanyakannya, tetapi ada sesuatu yang lebih mendesakku.
“Oi… emangnya kita mau apa disini?” tanyaku dengan nada bego. Sesaat raut muka anak itu berubah.
“No, kamu anemisia ya?” tanyanya dengan tampang tak percaya.
“Anemesia??” aku bertanya dengan tampang yang −sekali lagi− terlihat bego.
“Iya! Itu loh, yang kata orang-orang gila ingatan ato lali ingatan gitu!” jawabnya.
“Oh...maksudnya amnesia?” kataku datar.
“He-eh. Yo pokoke koyo ngono kuwi! Kita kan disini arep ngamen to? Piye jhe?” kini bukan hanya mukanya yang kebingungan. Bahkan ia pun kini menggaruk-garuk kepalanya yang aku yakini penuh dengan ketombe saking nggak pernah keramasnya.
“Wis, cepetan kamu ke perempatan sing disana! Selak diserobot anak liyane loh!” tambahnya dengan bahasa yang campur aduk. Aku hanya mengikuti perintahnya dengan pikiran yang dipenuhi seribu pertanyaan.
Detik berikutnya aku sudah asyik ber-‘kecrek-kecrek’ ria dengan alat musik khas pengamen, kecrekan. Anehnya, walau aku masih belum mengerti situasi yang ada, aku sudah lancar mengamen dari satu mobil ke mobil yang lain jika lampu merah menyala. Aku terus melakukan itu hingga matahari benar-benar ada di atas kota dan perutku mulai keroncongan.
Bergegas aku menuju warung terdekat untuk membeli makanan. Sebelum itu, aku mencoba menghitung pendapatanku hari ini. Seribu… dua ribu…. Tiga ribu…. Hem, aku sudah dapat lima belas ribu enam ratus rupiah hingga saat ini! Wah, kalau gini caranya, aku bisa cepet-cepet kaya! Aku dapat mendengar hatiku meniupkan terompet kebahagiaan. Cepat aku memasuki warung terdekat.
“Buk, nasinya satu, pake telor ama ini, Buk! Sate puyuhnya 3! Minumnya es teh manis! Yang seger-seger, Buk!” ujarku mantap sambil menunjuk menu yang aku inginkan. Tampak ibu itu tersenyum simpul dan mulai menyiapkan menu yang aku pesan. Aku tengah tersenyum-senyum senang ketika ada dua orang berbadan besar yang mendekatiku. Aku hanya melirik mereka sekilas dengan pandangan tak acuh. Untuk apa memperhatikan mereka? Toh, aku disini untuk makan!
“Wah, kaya’nya anak satu ini mau makan nih, Kak!” ujar salah satu orang di antara mereka sambil menaikkan dan menurunkan alisnya dengan cara yang aneh dan cara tak biasa. Orang yang di sebelahnya pun tak kalah anehnya. Sambil terus memegangi dagunya yang tak berjanggut dan mengangguk-angguk tak jelas, ia melirik temannya dan aku bergantian.
“Emangnya kamu udah dapet berapa banyak, heh?!! Jangan lupa kamu harus nyetor ke kita dua puluh lima ribu per hari kalo kamu nggak mau celaka!” tiba-tiba orang yang menegurku dengan tak sopan tadi berteriak berang. Aku tak tahu ada apa dengan mereka sampai aku ingat bahwa di sinetron-sinetron yang biasa ditonton ibuku, pasti ada beberapa preman! Dan tebakanku sepertinya tepat! Hii…
“Daripada kamu pake uang itu buat makan kamu, mending itu untuk kita! Ya nggak, Kak!” kata orang itu lagi. Aku pun cepat-cepat memegang bungkus permen yang aku jadikan tempat uang itu dengan erat. Namun aku terlambat! Bungkus itu sudah diserobot oleh salah seorang yang lain. Mereka pun tertawa dan melenggang pergi, meninggalkanku yang masih syok, dan perutku yang masih keroncongan minta diisi.
Aku lalu keluar dari warung dengan lesu dan tak bersemangat. Tak kusangka hasil jerih payahku bertempur dengan sinar matahari, debu, asap knalpot, dan tatapan sinis orang-orang harus ludes tanpa sempat aku gunakan.
“NO, LARII!!!” tiba-tiba suara yang sudah nggak asing lagi kudengar sejak pagi ini berteriak lantang. Aku menoleh ke kiri. Disana, anak yang tadi pagi membangunkanku terlihat berlari sekuat tenaga menjauhi beberapa orang yang mengejarnya yang berpakaian coklat-coklat. Siapa itu?
“NOO!!! LARI, BEGO!!!” suara itu kembali berteriak lantang dan sudah melewatiku dengan kencangnya. Tanpa menunggu aba-aba lagi, aku lalu berlari sekuat tenaga, menyusulnya.
“SIAPA TUH??!!” tanyaku sambil terus berlari.
“SATPOLPP,PIKUN!!!” jawabnya singkat. Merasa tersadar bahwa aku berada dalam bahaya yang besar, aku pun berlari sekuat yang aku bisa.
Hah…hah…hah… Jangan sampai aku tertangkap! Aku nggak mau!! Ternyata kehidupan pengamen itu nggak enak! Aku nggak mau!! Aku mau jadi Reno yang dulu! Reno yang hanya seorang pelajar biasa, yang masih punya orangtua, dan punya teman-teman yang banyak di sekolah! Aku nggak mau jadi pengamen!!!
* * *
“No… Bangun!! Reno, bangun! Ini sudah siang!”
Hah! Segera aku terbangun dari tempat tidurku. Aku mengerjap-kerjapkan mataku melihat sekelilingku. Aku ada di rumah! Tampak ibuku berada di samping tempat tidurku dengan wajah bingung. Mungkin heran anak semata wayangnya yang paling susah bangun dan paling malas sekolah ini sekarang langsung meloncat bangun dari tempat tidur dan menuju kamar mandinya setelah bangun. Tapi, aku tak pedulikan pandangan heran ibuku. Yang pasti, aku mau sekolah sekarang!




